Kejutan-Kejutan di Yangon

SAM_4842Keputusan untuk jalan-jalan ke Myanmar adalah keputusan dadakan. Iseng-iseng liat tiket pesawat di AirAsia (I really need to stop doing that) ternyata sangat murah yaitu sekitar USD 100 PP (Kuala Lumpur – Yangon – Kuala Lumpur). Rada kecewa karena orang Indonesia harus pake visa untuk masuk ke Myanmar. Visa sih gampang banget buat di dapat, but still I should not have needed the visa.

Baca-baca sih katanya Myanmar itu baru-baru aja punya ATM di bandaranya so saya pikir negaranya masih terbelakang. Belakangan saya tau kalau negara ini baru-baru saja membuka diri ke dunia luar, so understandable. Ada kok beberapa ATM yang menerima Visa atau MasterCard di bandara. Yang paling saya benci adalah kita harus membayar sekitar USD 5 atau MMK 5000 kepada bank yang punya ATM sekali tarik. Belum lagi saya harus bayar USD 3 ke bank saya untuk tarik duit di luar negeri jadi totalnya USD 8 untuk sekali tarik.
IMG_0653

Hal pertama yang membuat saya bangga sama diri saya sendiri adalah cara gimana saya bisa pergi dari bandara ke pusat kota. Saya baca nih di blog-blog orang untuk pergi dari bandara ke pusat kota satu-satunya cara adalah dengan naik taksi dan membayar USD 10. Wrong! Saya tanya sama Passenger Service disana dan mereka menjelaskan cara lain. Kita bisa naik bis lokal nomor 51 dari halte bernama 10 Miles. Artinya letaknya 10 mil dari pusat kota. Nah, untuk ke halte 10 Miles ini bisa jalan dari bandara selama 30 menit atau naik taksi dari luar bandara dan membayar MMK 1000 (USD 1). Masalah lain adalah semua nomor di bis di tulis dengan bahasa Burma. Yup, dan nomorpun punya karakter sendiri, bukan 1,2,3 dsb. Untungnya saya satu taksi ama orang Myanmar jadi mereka yang kasih tau bis mana yang ke pusat kota. Naik bis ini seharusnya cuman membayar MMK 200, tapi saya nggak punya MMK 200 jadi saya kasih MMK 1000. Eh, taunya saya malah di bawa ke kursi paling depan dekat sama supirnya. And guess what, ternyata itu adalah kursi VIP buat orang-orang yang bayar lebih dari MMK 200. Padahal si saya maunya yang biasa aja, saya mau kembalian MMK 800 itu. Buat orang Balikpapan kayak saya, bis di Myanmar itu termasuk hardcore, hahaha.
SAM_4841

Pemandangan sepanjang perjalanan membuat saya terkadang senyum sendiri. Semua orang memakai sarung. Itu hal yang paling saya notice selama perjalanan. Bahkan kadang saya mikir, kenapa ya orang Indonesia nggak pakai sarung kayak gini juga untuk kehidupan sehari-hari. It just looked very comfy and I wanted one.

Yangon itu kotanya besar, maksudnya ukurannya. Tapi saya nggak bisa bilang kalau kotanya itu developed. Sama sekali nggak keliatan seperti ibu kota. But again, I have been to Phnom Penh. Dan Yangon is way better than Phnom Penh.Β Orang-orang Myanmar pun itu jujur banget, baik.

Surprise, they don’t speak English. Saya harus pakai bahasa tubuh untuk pesan makanan. Street food dekat pasar kayak prasmanan gitu, lho. Jadi kita sendiri yang pilih lauknya. Saya sama sekali nggak ada masalah sama makanan Myanmar, rasanya juga mirip banget sama masakan Indonesia.

Ada beberapa macam transportasi umum di Yangon ini. Bis adalah yang paling populer menurut saya, dan mungkin paling murah. Ada lagi yang kayak jeepney di Filipina, yaitu sebuah mobil dan orang-orang duduk secara menyamping. Yang paling mahal adalah taksi. Taksi di Yangon nggak pake argo, jadi harus sepakat harga dulu sebelum naik. Kalau nggak sepakat karena menurut kamu kemahalan, jangan naik dan cari yang lain aja, soalnya sangat banyak taksi disini. Satu lagi yang saya juga nggak tau sih benar-benar ada apa nggak, yaitu kereta Circle Line yang katanya kita bisa naik dengan harga MMR 1000 untuk keliling kota Yangon dan total perjalanan adalah 3 jam untuk satu keliling.

Pernah cari host CouchSurfing di Yangon atau kota lain di Myanmar? Coba deh liat. Pasti kamu nggak bakal ngeliat banyak orang. Ternyata adalah sebuah pelanggaran hukum buat seorang lokal untuk menampung orang asing. Artinya, kalau seorang lokal ketauan menampung seorang asing di rumahnya, mereka bisa ditangkap dan masuk penjara. Aneh, ya? Dan sebuah hotel atau guesthouse harus mempunyai lisensi orang asing untuk dapat mamasukkan orang asing ke dalam. Mungkin pemerintah nggak mau orang lokal terlalu terpengaruh dunia luar? Entahlah.

Karena saya adalah backpacker yang miskin, saya coba untuk ngelintah di salah satu host di Yangon. Ketemu sih, seorang Korea yang saya nggak bisa sebut namanya disini. Dialah yang mengisi ketidaktahuan saya tentang Myanmar.
SAM_4757 SAM_4764 SAM_4907 SAM_4889 SAM_4875

Ada satu hal yang menurut saya cukup menarik. Jadi host saya ini tinggal di lantai paling atas sebuat gedung apartemen, kira-kira 12 lantai lah. Nggak ada lift. Satu-satunya jalan untuk ke atas adalah dengan naik tangga. Naik ke atas itu sumpah bikin kaki jadi berotot. Untuk masuk ke gedung inipun harus membuka kunci gerbang, masuk, kemudian mengunci lagi gerbang tersebut. The big question is, gimana kalo lagi nyante di rumah, tiba-tiba ada temen yang datang. Kalau di apartemen yang keren kan ada buzzer, jadi tinggal tekan terus minta di bukain pintu dan yang punya ruman busa nge buzz dan ngebuka pintu dari rumah. Tapi apartemen ini nggak kayak gitu. Satu jalan yang bisa di lakukan adalah dengan turun ke bawah, buka kunci gerbang, suruh teman masuk, kunci gerbang lagi, terus sama-sama naik keatas. Cape kan? Nah, ternyata ada satu solusi yang menurut saya … wait for it … genius! Jadi dari balkoni atas ada seutas tali yang di julang ke bawah sampai lantai bawah. DI tali itu ada bel dan jepitan untuk meletakkan kunci. Siapapun yang datang, tinggal goyangin kuncinya aja, bel akan berbunyi dan yang punya rumah tau kalau ada orang yang ingin masuk. Tinggal “slide” kuncinya aja pake tali itu ke bawah. Tamu bisa buka gerbang sendiri dan naik keatas.

Yang satu ini khusus orang Indonesia, ya. Eh, khusus orang asia tenggara kali ya. You can easily escape from paying entrance fee in most of Pagodas in Yangon. Evil, huh? Jadi don’t do this, ya. Saya aja kalau nggak bilang kalau saya orang asing, mereka nggak bakal curiga dan minta uang masuk. Waktu saya mau book kursSAM_4803 SAM_4810i di bis ke Bagan, host saya minta sama yang jual supaya saya dapat harga lokal, because I look like one. Mereka bicara pake bahasa Myanmar jadi saya ‘ngeh’ nya waktu liat tiket dengan nama Ko Aung dan cuman bayar seharga lokal. The next day, because I think this is wrong, jadi saya ke agen travel itu lagi dan minta tukar tiket dan membayar lebih untuk harga orang asing. Pas di terminal, mereka cuman announce informasi pake bahasa Myanmar. Saya harus tanya terus pakai bahasa Inggris. Kalau misalkan tiket saya masih dengan nama orang lokal, pasti ketauan kalau saya nggak bisa bahasa Myanmar and that could have become a problem.

If I said I wanted to live in Myanmar, that would be a big fat lie. Kenapa? Internetnya sangat teramat lambat. Wi-fi bisa kamu dapatkan di internet cafe and coffee cafe yang punya wifi, tapi jangan harap kamu bisa kirim satu email in one hour. OK, that was a lie. Tapi beneran deh lamaaaa banget. Eh, tapi di Shwedagon ama bandara ada wi-fi gratis, lho. I think that is because the SEA Games they held recently. Satu lagi yang lucu adalah adanya warung telepon di setiap jalan. Warung telepon ini adalah telepon rumah warga lokal yang bisa dipakai, biasanya bayar MMR 200.

Aduh, apa lagi ya? Mungkin kalian punya pengalaman unik selama di Yangon?
SAM_4756

_lucky77_

Iklan

21 pemikiran pada “Kejutan-Kejutan di Yangon

  1. hahaha… berhubung udah pernah ke myanmar jadi bisa ngebayangin kayak apa dan saya ketawa kekek-kekek… but it’s amazing ya penuh dengan kejutan yang bersahabat. Ayo, saya tunggu cerita lucumu dari myanmar lagi…

  2. Saya mau ke Myanmar nih Oktober nanti… Masalahnya, Miswa saya seringkali dianggap orang lokal kalau di Thailand-Vietnam…semoga di Myanmar juga begitu :))

    Thanks banget sharingnya.

    • Kalau saya iya, sempat beberapa kali mereka bingung dan hanya ngelewatin saya pas di tempat beli tiket (tapi saya balil lagi sih)

      Jangan lupa ke Bagan, worth visiting πŸ™‚

  3. Hai mas lucky,, salam kenal. mau nanya nie bus dari yagon ke bagan apa yaa namanya dan berapa duit? bisa ga saya di kenalin sama teman CS nya di myanmar, hehehe.. btw orang balikpapan juga yaa? boleh nie kopdar kalo bener orang balikpapan,

    • Hai, makasih ya udah mampir πŸ™‚
      namanya Mandalar Minn, bagus kok, kalau malam dingin banget sih pake AC, tapi dikasi bantal ama selimut terus kursinya juga gede. sekitar 15 dolar one way πŸ™‚ … yang CS sepertinya udah nggak di Myanmar lagi dia hehehe. Iyah saya orang balikpapan tapi sekarang udah nggak tinggal di Balikpapan lagi … mungkin pas saya kesana bisa ketemu, keep in touch!

  4. Waaah yangon emng lumayan menarik buat liburan singkat tp kalo kelamaan membosankan hahaha,, untung org myanmar baik2 yaah,, mereka menganggap kita itu kyk bule jd pasti di nomor satuin,, yg mau dtg ke yangon silahkeun,, ditunggu sm saya disini,, kebetulan skrg tinggal lg diyangon nh lumayan lah udh hampir setahun,, hehehehe

  5. Selamat Malam, Mas Lucky saya mau nanya di sana mas lucky ada kenalan seperti Gaet atau Guide yang bisa berbahasa Indonesia atau inggris gak soalnya tengah tahun ini saya ingin stay di myanmar neh for two days bersama family soalnya takut nyasar di sana kalo gak ada guide Txs mohon dibales yah

  6. halo mba Lucky, tulisannya bagus sekali saya jadi pengen ke Myanmar, tapi sebelumnya ada yang mau saya tanyain nih.

    1. Bagaimana cara ke Bagan dari Yangon ya?
    2. Jika naik Bus apakah harus reservasi terlebih dahulu?

    terima kasih

Tulis balasan kamu ^^

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s