Hiking di Bergen: Kabin Kalvedalshytta

Awalnya bertemu di sebuah acara yang di adakan oleh Korean Tourism Organization yang memberi kesempatan para orang asing termasuk saya untuk nonton F1 (Formula 1) di sebuah kota di selatan Korea Selatan. Bus, suasana, beberapa kaleng bir, dan tarian Gangnam Style yang waktu itu sangat populer di Korea membuat kita mengenal satu sama lain dan akhirnya menjadi teman sampai sekarang. Teman saya ini asalnya dari Kanada, tapi kemudian pindah ke Bergen, sebuah kota terbesar kedua di Norwegia. Mumpung dia lagi disana, saya putuskan untuk mampir. It could never have been more right decision to go to Bergen.

Tujuh jam perjalanan naik kereta dari Oslo ke Bergen. Pemandangannya luar biasalah dari kereta (baca: Terpanjang, Terbesar, Terindah, Terenak di Eropa). Sampai di stasiun Bergen, setelah menunggu sebentar, bertemulah saya dengan Soline, dan pacar dia. It has been a while, really. Sambil catch up tentang hidup kita masing-masing, kita jalan ke apartemen dia, yang punya balkoni dengan pemandangan yang keren juga.
20130727_163457

Bergen, walaupun kota kedua terbesar di Norwegia, tapi sangat kecil, lho. Nggak ada gedung-gedung tinggi. Mungkin kota kelahiran saya, Balikpapan, lebih besar dari Bergen ini. Katanya juga di Bergen ini sering banget turun hujan. Nggak banyak sih yang bisa di liat, kecuali pasar ikan yang harga ikannya menggila. Tapi, harta yang disimpan di Bergen bukanlah kotanya, tapi alamnya. Makanya, Soline membuat rencana untuk pergi hiking selama 2 hari dan menginap di kabin. Seru banget kedengarannya. Selama ini sih saya cuman ngeliat dari kereta atau bus, hutan atau gunung dari kejauhan doang. Sekarang saya punya kesempatan buat benar-benar ada di hutan atau gunung itu dan dilihat dari bus atau kereta sama orang-orang.

Kita berangkat pagi-pagi. Harus naik bus dulu dari terminal bus Bergen. Disinilah saya bertemu dengan teman-teman Soline lain yang kemudian juga menjadi teman saya. Total enam orang, berasal dari 3 negara berbeda di 3 benua yang berbeda. Kabin yang bakal kita buat tempat untuk tidur ntar malam bernama Kalvedalshytta. Perjalanan naik bus lebih lama daripada yang saya bayangkan.
20130729_084819

Kitapun dituruni di sebuah entah berantah. Cuman ada jalan kosong yang panjang, sebuah rumah dengan beberapa kuda dan sebuah sungai yang disampingnya adalah sebuah hutan. Dipimpin oleh Soline, kita semua jalan masuk ke arah hutan. Awalnya sih jalan berupa aspal, menanjak pula. Disinilah saya baru sadar kalau hiking sucks.

Kita pakai nyasar segala. Walaupun yang kita temukan keren banget. Ada sebuah lahan dan banyak dombanya. Dombanyapun pakai kalung yang ada belnya, mirip banget kayak yang di tipi-tipi. Tak lama kemudian akhirnya mereka temukanlah sebuah tanda, huruf T berwarna merah, yang berarti we are on the right track. Dari sinilah jalan yang tadinya aspal, berubah menjadi tanah, rumput, batu, dan lumpur.

Nggak lama sebelum saya kehabisan nafas, kehabisan tenaga, dan kehabisan air minum. Hiking is hard, really. Tapi benar apa yang mereka bilang, selama perjalanan banyak banget yang bisa di liat dan segar banget. Keadaan semakin parah ketika hujan memutuskan untuk menyapa kita. Sebenarnya sih kita sudah memprediksi kalau bakal hujan. Medannya tambah susah, ditambah teman-teman lain sudah pada jago hiking jadi pada cepet banget jalannya, walaupun ada satu orang yang mungkin karena proporsi badan, lebih lambat dari saya. Jalan nggak selalu datar, men. Sebagian besar dari perjalanan ini, kita harus mendaki tempat yang sangat curam, bahkan sempit. Entah berapa lama kita jalan, walaupun eventually kita sampai di Kalvedalshytta.

Kabin Kalvedalshytta layaknya kabin-kabin lain di Bergen disediakan buat para hikers berisitirahat. Kabin ini cuman di tinggal gitu aja, nggak di kunci. Terdapat banyak potongan kayu digudang dan kapak. Didalam kabin terdapat “kamar mandi” tanpa air, nggak ada toilet. Kalau mau mandi sih bisa ke danau tepat didepan kabin. Kalau mau pee pee atau poop poop ya harus di alam :). Kabin ini cukup luas, ada beberapa tempat tidur, dapur dan ruang makan. Plus ada makanan kaleng pula, tapi harus bayar. Oleh karena itulah kita memutuskan untuk membawa makanan sendiri. Yup, mungkin 70 persen dari barang bawaan kita adalah makanan dan minuman.

Pertanyaannya adalah, kalau misalkan kabin ini nggak ada yang jaga, terus bayar kemana? Yup, untuk memakai fasilitas ini kita harus bayar, satu orang sebesar 90 NOK. Disinilah kejujuran kita di coba. Kita bisa aja sih masuk, tidur, dan pergi tanpa membayar. Tapi kalau mau bayar (dan seharusnya bayar) bisa menulis di sebuah buku di dalam kabin sambil selipin duitnya. Yah, moga-moga tulisan ini nggak dibaca sama maling yang tinggal di Bergen, ya.

20130728_134512 20130728_134839 20130728_141504 20130728_151605 20130728_153959 20130728_160347 20130728_163406 20130728_165655 20130728_165919 20130728_173823 20130728_174621 20130728_180523 20130728_182451 20130728_185138969411_10201794179519098_1848575090_n

_lucky77_

Iklan

Tulis balasan kamu ^^

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s