2×22 Jam Transit di Beijing

IMG_2514

Musim dingin 2012 yang lalu saya pulang ke Indonesia. Dulu waktu saya nggak punya kartu debit visa, saya cari tiket di website interpark.co.kr yang pembayarannya bisa melalui deposit ke rekening tertentu. Dapat yang paling murah yaitu Air China. Masalahnya adalah saya harus transit 2 kali di Beijing selama 22 jam. Masalah? Nggak juga sih.

Tentu saja saya punya pikiran untuk keluar dari airport dan jalan-jalan di kota Beijing. Setelah ubek-ubek internet sana-sini, kekhawatiran saya malah nambah. Banyak yang bilang bahkan untuk transit saja harus punya visa. Akhirnya saya email langsung bandara internasional Beijing Capital. Yup, saya nggak perlu punya visa kalau cuman transit saja. Sedikit lega walaupun masih nggak tau bisa keluar dari airport apa nggak. Walaupun begitu saya tetap cari teman di couchsurfing biar bisa nginap dan di ajak jalan-jalan disana.

Waktu sampai di imigrasi di bandara internasional Beijing Capital saya malah nggak di kasih cap sama sekali dan di suruh nunggu di counter lain. Nggak ada siapa-siapa dong di counter ini dan beberapa penumpang lainnya pun berdatangan juga di suruh nunggu di counter ini. Saya mulai takut malah di pulangkan ke Korea gara-gara nggak punya visa transit. Beberapa menit kemudian datanglah seorang petugas dan duduk di counter itu. Dia memeriksa paspor saya dan tiba-tiba membalik ke sebuah halaman kosong dan mengecap sesuatu. Yay! Saya baru aja dikasih stay permit buat satu hari!

Di bandara banyak telepon umum dan kita bisa nelpon ke nomor lokal gratis. Saya telponlah Lee, teman Couchsurfing saya dan kita janji bakal ketemu di stasiun Guloudajie. Setelah nanya ama mba-mba informasi di bandara saya harus ambil kereta bandara ekspress (Airport Express Train) dan transit di stasiun Dongzhimen. Kereta bandara ini punya 4 stop: terminal bandara 3, terminal bandara 1 dan 2, stasiun Sanyuanqiao dimana kita bisa pindah ke line 10, dan Dongzhimen untuk pindah ke line 2 dan 13. Untung aja semua stasiun ada huruf alfabetnya di bawah karakter cina. Kereta ini seharga RMB 25 (sekitar IDR 40.000) sekali naik. Saya transfer di Dongzhimen dan pindah ke line nomor 2 dan kembali ambil subway (RMB 2) untuk ketemu Lee di stasiun Guloudajie.

Panik itu adalah ketika saya sudah nyampe di Guloudajie dan Lee belum ada disana. Nggak ada telepon umum di sekitar stasiun. Akhirnya saya nekat minjam hape ke seorang remaja Cina. Dia nggak bisa bahasa Inggris jadilah saya pake bahasa tubuh (in a non sexy way, ya). Ajaibnya, baru aja saya dial, muncul aja si Lee.

Lee datang sama dua orang couchsurfer lainnya dari Rusia dan Pakistan. Kita berempat kemudian di ajak Lee jalan di sebuah jalan terkenal di Beijing. Saya sudah nggak ingat namanya apa. Rada sepi sih jalan ini. Mungkin karena sudah malam dan karena musim dingin juga.
IMG_2498

Keesokan harinya baru the real adventure began. Saya punya waktu sampai sore hari. Saya dan Lee berangkat pagi-pagi buta buat makan pagi. Makan paginya khas Cina banget yaitu dumpling dan sup. Destinasi utama saya adalah Forbidden City (Kota Terlarang).
SAM_7068

Beijing itu sumpah gede banget. Ibaratnya kalau mau ke rumah tetangga aja harus jalan sekitar 1 KM. Saya sama Lee naik bis ke Forbidden City, tapi sebenarnya ada stasiun subway kok dekat sini. Tiket masuknya seharga RMB 40. Mba yang jaga tiketnya sadis banget, masa tiket ama kembalian saya di lempar gitu ke lubang kecil di counternya. Dari sini saya keliling sendirian soalnya Lee harus pergi ada urusan katanya. Saya sebenarnya nggak tau sama sekali sejarah di balik Forbidden City ini. Yang pasti tempat ini gila gede banget. Mungkin perlu satu jam lebih untuk sampai di ujung tempat ini. Di sanalah pintu keluar dari Forbidden City ini berada. Parahnya nih ya, saya harus jalan mengitari Forbidden City dari luar untuk kembali ke depan soalnya disitulah subwaynya berada dan saya juga mau ke Tiananmen Square. Tiananmen Square ini adalah sebuah square yang gede banget. Pernah dengar kan sejarah tempat ini?
SAM_7097

Kedua kalinya saya transit di Beijing adalah ya pas pulang dari Indonesia ke Korea. Kali ini saya habiskan banyak waktu di bandara. Browsing bentar, terus bosan, saya putuskan untuk coba hubungin Lee. OMG, ternyata dia lagi di luar Beijing  dan bakal pulang sore harinya, jadi kita bakal ketemu di bandara!

Kali ini karena sudah malam dan cuaca yang sangat dingin jadi saya cuman jalan-jalan bentar di Olympic Park. Disini ada dua gedung yang unik banget. Satunya mirip sarang burung, satunya mirip bubbles. Oia, kali ini juga saya ketemu orang tuanya Lee. Ya ampun udah kayak mo nikah aja, hahaha.
SAM_8629 DSC_8108

_lucky77_

Iklan

12 pemikiran pada “2×22 Jam Transit di Beijing

  1. Hai lucky. Mau tanya donk.. Saya ada rencana perjalanan dari jakarta ke houston dan transit di beijing 10 jam.. Apa masih bisa keluar bandara ya tanpa visa?

  2. Wooow amazing… foto2nya kereen.. jadi kepengeen keliling duniaaa… 🙂 btw aku baru tau nama tempat2 tsb di beijing.. itukannyh di tayangin di film assalamualaikum beijing^^

  3. Halo Lucky 🙂
    Salam kenal, saya Tatat. Awal feb besok saya akan transit di Beijing dlm perjalanan Düsseldorf-Jkt sekitar 10 jam di Beijing (5.30 – 15.30). Karena lumayan lama, saya penasaran kira-kira bisa keluar dr bandara ga ya untuk jalan-jalan sebentar ke Kotanya. Seorang teman org China ngasih tau kalo saya ga bisa keluar. Tapi setelah baca pengalamanmu, saya jadi penasaran lagi. Kira-kira bisa nanya kepastiannya ke mana ya?

    Makasih,
    Tatat

Tulis balasan kamu ^^

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s