The Dark Side or The Wonderland?

Saya pernah dengar sebuah kalimat seperti ini: Why is sin always pleasurable? Kenapa dosa itu selalu menyenangkan? Postingan kali ini ada hubungannya sama “dosa” bagi yang percaya kalau yang bakal saya tulis disini adalah dosa.

Kalau kalian baca postingan saya Peta + Jalan Kaki di Roma Bagian 1, saya cerita kalau saya berteman dengan roommate saya satu kamar di guesthouse. Nah, malam itu dia ngajakin ke stasiun Tiburtina karena dia pengen beli tiket buat pulang ke rumahnya yaitu di selatan Italia. Deket situ ada semacam bar yang menurut saya si yang punya itu pasangan gay. Di situ kita hang out bareng ama temannya dia. Bar ini sangat lokal, nggak ada satupun orang asing selain saya. Disini juga saya ngeliat dia “transaksi” obat bentuknya kayak rokok gitu. Interesting :).

Kalau di Amsterdam, you know lah, ganja itu legal. Jangankan dekat Amsterdam Central Station, di daerah perumahan tempat saya tinggal selama di Amsterdam pun ada sebuah kafe ganja kecil. Di depan kafe ini di jaga sama seseorang berbaju pelayan gitu. Kalau mau masuk, harus nunjukin kartu identitas. Saya pergi kesana dengan roommate teman saya yang umur 19 tahun, and we were allowed to get in.

Dari pintu aja udah kecium banget bau asap ganja. Cuman ngirup asapnya aja udah lumayan bikin “sensasi”. Nggak juga sih, hahah. But really, there was something going on in my head. Harga secenteng ganja nggak semahal yang saya bayangkan: EUR 3,5 untuk yang level beginner. What happened next? Rahasia, dong!

Waktu saya jalan-jalan di Amsterdam, saya penasaran sama red district mereka yang terkenal itu, lho. Katanya sih ada banyak red district tersebar di Amsterdam. Satu yang lumayan besar terletak dekat banget ama Amsterdam Central Station yaitu De Wallen.
SAM_4032

De Wallen ini isinya kafe (ganja dan biasa), restoran, sex shop, LGBT (or friendly) community, bar, dan toko souvenir. Nah, itu semua sih udah buka dari pagi, tapi “harta” sesungguhnya adalah cewek-cewek yang berada di dalam ruang display dari kaca yang menggoda kita supaya masuk dan mereka beroperasi pada sore hari biasanya pas udah gelap. Sialnya saya datang pas musim panas di mana matahari terbenam lama banget. Saya sempat putus asa soalnya perjalanan pulang lumayan jauh dan saya nggak bisa pulang larut. Akhirnya sekitar jam 7 atau 8 walaupun masi terang benderang, saya coba untuk terakhir kali keliling De Wallen. Ternyata oh ternyata mereka sudah beroperasi di lorong-lorong sempit. Saya sampai kaget pas lewat lorong itu soalnya mereka lagi dengan nakalnya nari-nari di dalam ruang kaca dengan lampu berwarna merah. Tips: jangan sekali-sekali nyoba ambil foto mereka!

Yang benar-benar bertema “Wonderland” itu adalah sebuah daerah di Kopenhagen yang bernama Christiania. Di Denmark, seharusnya ganja itu illegal, tapi entah kenapa (mungkin ada perjanjian atau apalah) di satu daerah ini saja orang-orang bebas makai ganja tanpa di ganggu oleh polisi.

Lambang daerah ini adalah 3 buah lingkaran berwarna kuning dengan latar belakang warna merah. Daerah ini di penuhi dengan dekorasi yang benar-benar bertema Wonderland sesuai dengan fungsi nya. Kalau di Amsterdam bau ganja hanya tercium di dalam kafe, kalo di Christiania ini bau ganja tercium dimana-mana. Kalau sudah masuk area Christiania ada satu batas dimana foto udah nggak di perbolehkan lagi, so be careful!
20130801_182150 20130801_181916 20130801_183842 20130801_183915

Happy high!

_lucky77_

Iklan

Tulis balasan kamu ^^

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s