Athens Has Fallen

Impresi pertama ketika saya turun keluar dari bandara Athens International Airport adalah “sepi, gersang, dan kotor”. Di sekeliling bandara nggak ada bangunan, hanya lapangan luas berwarna emas, mungkin pasir, atau padang pasir. Panas, lebih panas dari Istanbul, kota pertama saya menginjakkan kaki di benua Eropa sebelum terbang ke Athena. Metro berada beberapa mungkin 100 meter dari bandara. Harus naik tangga menuju sebuah lobi. Isinya mesin tua yang saya nggak punya waktu untuk mempelajarinya. Saya telat. Ada seseorang menunggu saya di dekat stasiun metro Victoria dan saya sudah memakan waktu yang banyak di imigrasi. Athena adalah kota pertama saya masuk negara Schengen, saya harus dapat cap masuk di visa Schengen saya.Untung saja ada loket untuk membeli tiket metro. Saya jadi tau kalau di semua stasiun metro di Athena bakal ada loket-loket yang menjual tiket metro. Beruntunglah saya membuat ISIC (International Student Identity Card). Dengan menunjukkan kartu ini saya diberi diskon 50%. Tiket dari bandara yang seharusnya 8 EUR, saya dapatkan dengan harga 4 EUR.

Beberapa orang bingung mencari platform yang benar. Athena benar-benar memberi saya first impression yang buruk. Saya membayangkan kota-kota di Eropa yang mempunyai teknologi canggih, orang-orangnya taat peraturan, dan bersih. Kalian harus melihat apa yang saya lihat di stasiun metro bandara ini. Keretanya penuh dengan coretan, tidak terawat, dan sesekali mba-mba di metro yang biasanya memberi informasi nama stasiun setelahnya mengingatkan kepada penumpang untuk benar-benar memperhatikan barang bawaan. Saya pernah dengar tentang krisis ekonomi yang melanda Eropa, tapi apakah seburuk ini dampaknya kepada Athena, has Athens fallen?

Saya telat 30 menit. Di sebuah kafe dekat stasiun Victoria saya terus mencari-cari teman saya yang saya belum pernah ketemu sekalipun. Hanya melihat foto-foto dia lewat sebuah website sesama traveler. Saya kemudian berdiri di pinggir jalan perempatan. Hanya diam dan berusaha tenang. Saya pantau daerah sekitar. Hal yang mengejutkan saya adalah penduduk Athena yang saya pikir penuh oleh orang kulit putih tetapi yang saya lihat adalah campuran orang berkulit lain. Mungkin Athena sudah menjadi negara multi-culture, entahlah.

Untunglah saya menengok kebelakang, wajah yang saya kenal dari foto-foto di website. Dia adalah seorang penduduk Athena, panggil saja Steve, soalnya menurut saya dia orangnya mirip Steve Jobs, hahah. Umurnya mungkin 30 keatas, berkacamata dan terlihat pintar. Stevelah yang menawarkan saya tempat tinggal selama di Athena, walaupun hanya untuk 2 malam.

Apartemen Steve nggak jauh kok dari stasiun Victoria. Selama perjalanan, kita hanya saling berbagi cerita tentang masing-masing dan saya harus menjelaskan kenapa saya telat. Lagi-lagi suasana rada mencekam terasa oleh saya sepanjang perjalanan. Entah kenapa malam itu sangat gelap, sangat sunyi, dan sangat terasa kalau saya sedang di pantau!

Akhirnya Steve bercerita tentang situasi Athena yang menurut saya sangat memprihatinkan. Penduduk Athena dulunya sangat bahagia sebelum krisis melanda. Sekarang banyak orang kehilangan pekerjaan, wajah-wajah mereka aja keliatannya sedih banget. Steve sendiri mengaku dulunya dia bisa dengan santai pergi keluar Athena, travel sesuka dia karena pekerjaan dia yang dulu memberikan dia gaji yang luar biasa. Sekarang dia hanyalah seorang guru di sekolah yang isinya adalah anak-anak imigran. Iya, imigran ini juga yang menjadi masalah di Athena. Kata Steve, 20 persen dari seluruh penduduk Athena (atau Yunani, saya kurang ingat) adalah imigran. Imigran-imigran yang tadinya mengharapkan hidup yang lebih baik di Athena, yang lari dari negara mereka yang sedang kacau dan bahaya. Steve sendiri sih ngaku nggak punya masalah dengan imigran yang datang ke Athena. Tetapi mungkin penduduk asli lain tidak. Di hari terakhir saya di Athena, saya melihat demo besar menuntut pemerintah untuk, dengan kata kasar, mengusir imigran keluar dari tanah Yunani.

Saya masih ingat malam itu. Steve dan saya telah selesai makan malam bareng di sebuah “tavern” di daerah 3 halte dari tempat tinggal Steve. Anehnya, menurut pengakuan Steve, orang-orang Yunani makan malam biasanya jam 11 malam. Mungkin ini hal yang lumrah di Eropa, ntahlah. Sudah lewat jam 12 dan sudah berganti hari. Tiket one-day pass saya buat transportasipun seharusnya sudah habis. Steve dengan ignorantnya menyuruh saya untuk jalan kaki karena dia tidak ingin jalan kaki. Saya sebal saya dia waktu itu. Saya bisa saja membayar tiket bis, tapi saya memutuskan untuk jalan kaki. Sejauh apa sih 3 halte bis itu. Jalan sangat gelap, saya dan Steve berpisah di halte bis. Saya terus jalan sambil mempercepat langkah. Disitulah saya lihat, di lorong kecil, beberapa orang dengan asiknya menusukkan jarum suntik ke tangan mereka. Drug addicts, lagi-lagi satu permasalahan di kota Athens. They are everywhere! Dan mereka sering banget ngumpul-ngumpul dan katanya sering meminta uang.

Saya tertarik untuk ambil foto dengan dewa musik, Apollo. Dia berdiri di atas sebuah pilar di sebuah gedung bersama dengan Athena. Waktu itu adalah siang hari dan sangat panas. Stevelah yang dengan senang hati akan mengambil foto saya bersama si Apollo. Yang kita tidak duga adalah gerombolan orang disana, dan mereka bukanlah turis, dan menurut Steve, bukanlah orang Yunani … mereka adalah pecandu obat. Kita berusaha tenang dan bertingkah laku sewajarnya. Steve pun terlihat bergegas buat ambil foto saya. Saya pun berusaha untuk tidak su’udzon sama mereka, sampai beberapa dari mereka mencoba mendekati kita. Stevepun menarik saya dan mempercepat jalan ke jalan besar.

Athena benar-benar merusak image di otak saya tentang kota-kota di Eropa. Walaupun begitu, tempat-tempat turis yang saya kunjungi seperti Ancient Greek Agora, Akropolis, Temple of Zeus, Temple of Poseidon, dan lainnya sangat terawat, kok. Mungkin mereka mendapatkan penghasilan besar dari segi pariwisata sehingga mereka harus benar-benar merawatnya. Well, I guess Athens is not on my list of the cities I want to live in.

_lucky77_

Iklan

Tulis balasan kamu ^^

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s