Ribet Nggak Sih Accross Border di Asia Tenggara?

604cf-photo13-1-16-ec98a4ed9b8451629
Kalau rajin dan pinter cari di internet, pasti banyak kok cerita orang-orang tentang cara nyebrang perbatasan di negara-negara Asia Tenggara. Jujur, saya udah banyak nih obrak-abrik dunia maya untuk mencari jawaban akan pertanyaan “ribet nggak sih accross border dari negara ini ke negara ini?” Dan emang banyak sih ketemu cerita-cerita tentang nyeberang perbatasan. Yang parah katanya di perbatasan antara Kamboja dan Thailand, banyak spammers katanya.

Well, based on my experience, sih, nggak terlalu ribet kok. Waktu dari Ho Chi Minh City di Vietnam mau ke Phnom Penh di Kamboja saya naik bus lumayan terkenal. Mekong Ekspres dan ini punya perusahaan Kamboja. Busnya bagus, terus mba pramugarinya juga baik banget, suaranya udah kayak mbak-mbak pramugari di pesawat. Tiketnya 13 dolar per Januari 2013. Naik busnya dari kantor Mekong Ekspres di distrik 1 dan harus tepat waktu. Perjalanannya sih 5 jam, tapi bisa juga telat tergantung antrian di kantor imigrasi dan jadwal kapal ferry.

Nah, sebelum masuk border, mbak pramugari yang manis ini bakal minta paspor kita. Kalo kita yang orang Indonesia mah nggak bayar jadi tinggal kasi aja paspor kita. Sesampainya di border kita harus turun dari bus dengan membawa semua barang bawaan kita, termasuk yang kita taruh di bagasi soalnya harus di screening di dalam kantor imigrasi. Habis itu tinggal nunggu deh nama kita dipanggil dan tinggal ambil paspor kita. Keluar dari kantor, terus kita cari deh bus kita di sisi lain gedung imigrasi. Beres dan tinggal tidur di dalam bus sampai ke Phnom Penh.

Bukannya pengen promosi, tapi I love Mekong Ekspres, deh. Dari Phnom Penh ke Siem Reap saya juga pakai bus ini, dan ternyata di dalam bus terdapat Wi-Fi dengan koneksi internet! But, sedihnya ternyata cuman beberapa menit aja bisa dipakenya, tau-tau udah nggak bisa konek aja internetnya. swt.

Dari Had Yai, Thailand ke Penang, Malaysia saya naik minivan dan bayar seharga 300THB. Saya sudah kapok naik kereta. Sangat nggak ontime dan nggak nyaman at all! Minivan ini malah nyaman banget. Di borderpun sangat gampang, caranya nggak jauh-jauh amat sama perbatasan Vietnam-Kamboja. Bedanya, kita sendiri yang datang ke imigrasi dan bawa paspor kita sendiri. Piece of cake, la!

Paling ribet dan bikin sakit hati dan jiwa raga adalah perbatasan Kamboja-Thailand. Sebelumnya sih saya sudah browsing dan ketemu nih caranya yang juga lumayan ribet sih menurut saya, dan ini saya temukan di salah satu website yang terpercaya. Caranya adalah dengan pergi ke Poipet (soalnya saya dari Siem Reap, Kamboja ke Bangkok) yang letaknya dekat dengan perbatasan, sekitar 3 jam dari Siem Reap. Ada beberapa cara pergi ke Poipet ini, dari yang termahal: taksi, shared minivan atau private car, dan bus. Turun di Poipet, ke imigirasi dan minta exit stamp. Terus jalan kaki melewati perbatasan ke kantor imigrasi di sisi Thailand dan mengurus visa atau stay permit disana. Untuk ke Bangkok, naik tuk-tuk ke stasiun kereta di Aranyaprathet bayarlah 100THB. Nah, dari stasiun ini naiklah kereta yang hanya ada satu dalam satu hari ke Bangkok, jadi kalo kamu miss the train, harus nginap satu hari di Aranyaprathet!

Nah, itu sih yang dari internet. Yang saya nggak tau adalah bahwa ternyata ada “bus” yang melayani rute Siem Reap-Bangkok! Saya tau ini dari resepsionis guesthouse saya di Siem Reap. Harga tiketnya sih 10 dolar dan menurut saya cukup murah. Tenanglah saya soalnya saya sudah punya pengalaman baik mudahnya menyebrang perbatasan dari Vietnam-Kamboja. But eits, ternyata nggak segampang itu men.

Pagi-pagi saya sudah dijemput sama minivan. Setelah menjemput beberapa orang di guesthouse yang lain dan minivan sudah penuh, saya pikir kita bakal di transfer ke bus beneran. Ternyata minivan inilah yang mengangkut kita semua ke Poipet. Di tengah jalan kita istirahat sebentar dan sang supir menunjuk toilet buat penumpang yang ingin ke toilet. Toiletnya berada di belakang sebuah rumah yang juga sebuah toko snack. Karena saya orangnya beseran, pergilah saya ke toilet. Sehabis pakai dan mau masuk kembali ke minivan, eh si ibu punya rumah sambil gendong anaknya teriak “buy something, free toilet. WTH banget, saya udah pakai toiletnya baru dia ngomong. Parahnya sang supir minivan cuman nyengir-nyengir aja seakan sudah tau dan bersekongkol sama nih ibu. “Penipu!” saya teriak sekeras-kerasnya, tapi dalam hati saja sih. Dan beberapa mbak-mbak bule juga kena, dan akhirnya kita semua beli deh snack yang harganya juga so pasti udah di mark up ama dia.

Lima menit sebelum nyampai Poipet, kami diturunkan lagi di tempat peristirahatan punya perusahaan “bus” ini. Dan memang ada satu bus besar yang isinya penuh dengan penumpang yang pengen ke Thailand juga. Disini kita harus menukar tiket kita dengan stiker, beda warna beda kota tujuan. Tujuannya supaya habis nyebrang bisa di kenali dan diantar ke kota yang benar.

Sesampainya di Poipet, kita diturunkan pas di kantor imigrasi dimana kita harus dapat exit stamp. Waktu itu sudah siang sekitar jam 12-an. Antriannya nauzubillah! Nggak terlalu panjang, sih, tapi prosesnya lama dan diluar ruangan yang cuma ada sekitar 2 kipas angin. Cuman ada 4 loket untuk melayani ratusan orang asing dan orang lokal. Dan saya rasa saya nggak begerak selama beberapa puluh menit ditempat yang sama. Nah, disinilah para petugas imigrasi mata duitan mulai melakukan operasi busuknya. Dimulai dengan menanyakan negara asal, barulah di tentukan harganya. Saya sempat ngeliat dan nguping percakapan antara satu petugas imigrasi (perlu diketahui mereka adalah petugas asli, dengan seragam) dan seorang bule yang baru saja datang dan tampak kebingungan. Pertama sang petugas meminta paspor sang bule dan berlagak melihat-lihat isi paspor tersebut. Terus mulailah dia minta “duit proses” sebesar 500THB. Entah si bule nggak tau itu adalah hal ilegal atau emang nggak pengen ngantri di imigrasi si bule ngasih aja 500THB itu.
c1724-photo13-1-22-ec98a4ed9b8422346

Sayapun nggak lepas dong dari rayuan pak petugas ini. Waktu tau saya dari Indonesia, eh bapak ini malah menawarkan dengan bahasa Indonesia “200THB” katanya. Yah, mungkin taulah kalau dari Indonesia dikasi rada murah. Tapi saya sih sudah bersikeras nggak mau ambil jalan yang kayak gitu, harus diberantas nih seharusnya yang ginian. Tapi konsekuensinya saya mungkin 2 jam cuman untuk dapat exit stamp dan sumpah kepanasan!

Sudah dapat exit stamp, lanjutlah jalan kaki sekitar 200-300 meter melewati perbatasan sampai melihat tanda kantor imigrasi Thailand. Disini nggak jauh bedanya, harus ngantri lagi lama banget. Disini juga saya harus ngisi arrival card. Untungnya saya disini ketemu sama orang Indonesia yang juga ke Thailand dan memakai bus dari perusahaan yang sama. Lebih odd-nya lagi, ternyata kita bakal tinggal di guesthouse yang sama di Thailand! Yah, lumayan lah ada teman ngobrol selama ngantri dan selama perjalanan. Setelah dapat stay permit, langsunglah kita cabut ke luar buat cari minivan kita. Sebelumnya saya komat-kamit cari toilet, sekalinya dapat, ternyata harus bayar pakai uang Thailand dan saya nggak punya seperserpun! Untung ada teman Indonesia yang tadi ketemu, akhirnya minjam dan lepas deh dari penderitaan.
04765-photo13-1-22-ec98a4ed9b8431949

Eits, penderitaan belum habis dong mamen. Kita semua penumpang dari Siem Riep tadi digiring ke sebuat tenda disuruh nunggu disitu. Kemudian datang beberapa transportasi umum macam minivan dengan belakang terbuka seperti gambar di bawah ini tapi lebih bagus dikit. Dan kita pikir kita bakal diantar ke Bangkok dengan ini! Dan FYI, ke Bangkok masih 4 jam perjalanan lagi! Alamak, udah cape ngantri, panas, desak-desakan. Untungnya, ternyata si minivan itu hanya mengantar sampai kantor perusahaan tersebut sekitar 3 menit.
a28ab-photo13-1-26-ec98a4ed9b8474928

Kordinator perusahaan ini sangan rasis! Si ibu ini sama bule aja ngomongnya halus, sama saya malah ngebentak-bentak. Dasar penjilat! Masih ada aja orang yang mendewa-dewakan ras kulit putih. Saya sudah muak dengan perusahaan ini, sangat tidak profesional dan sangat menyita banyak waktu. Mungkin saya dan teman saya yang dari Indonesia adalah penumpang terakhir yang diantar, karena mengantarnya hanya dengan minivan kecil yang muat mungkin 10 orang saja, sedangkan penumpangnya banyak sekali.

Dijemput jam 7 pagi dari guesthouse di Siem Reap, nyampai Bangkok sekitar jam 9 malam. Padahal, jarak Siem Reap-Bangkok adalah kurang lebih 7 jam! Jadi penasaran, kalau saya coba cara dari website itu, apa saya nyampai lebih cepat dan lebih nyaman? Ada yang mau coba?

_lucky77_

Iklan

6 pemikiran pada “Ribet Nggak Sih Accross Border di Asia Tenggara?

  1. Ping balik: Rute Perjalanan Asia Tenggara | Jalan-Jalan Moto-Moto

Tulis balasan kamu ^^

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s